Lanskap dan Peluang Investasi 2025: Inflasi, Suku Bunga, dan Ketidakpastian Geopolitik

Dengan Donald Trump sebagai presiden AS terpilih, para investor akan melihat bagaimana outlook ekonomi dan pasar global. Secara historikal, kita bisa melihat bagaimana performa masing-masing instrumen investasi pada periode pertama Trump menjabat.

sumber us presidential elections 2024 the view from here

Jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya, kinerja pasar saham mengungguli pendapatan tetap, dan pasar saham AS secara umum mengungguli pasar saham Non-AS. Saham-saham “growth stocks” dan juga saham-saham sektor teknologi juga tumbuh dengan baik, meskipun hal ini juga dipengaruhi faktor-faktor yang lebih luas yang menyebabkan ekspansi pada sektor tersebut.
 
Lalu, berapa banyak pola tersebut yang akan berulang? Sayangnya, kondisi geopolitik saat ini lebih bergejolak. Amerika berada pada siklus ekonomi yang berbeda dengan 2016, di mana pada saat itu, ruang kebijakan fiskal tidak seketat sekarang dan kebijakan suku bunga ditahan untuk tetap rendah selama bertahun-tahun mengikuti krisis finansial global dan inflasi berada di bawah target. Saat itu The Fed menaikkan suku bunga acuannya secara bertahap karena khawatir stimulus dari pemangkasan pajak bisa mendorong inflasi.
 
Sementara kemenangan Donald Trump pada 2016 cukup mengejutkan investor, kondisinya berbeda dengan saat ini di mana hasil pemilu tahun ini tampak sudah priced in pada market. Meskipun demikian, kita berharap perkembangan pasar saham selanjutnya mencerminkan tren positif yang dialami investor setelah pemilihannya pada tahun 2016.

Makroekonomi dan Prospek Pasar 2025

Pada awal tahun 2025, mayoritas pelaku pasar memprediksi ekonomi global dapat mengalami “soft landing,” dengan inflasi kembali ke target dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Central Bank juga mulai melonggarkan kebijakan moneter, sehingga memungkinkan suku bunga turun ke tingkat netral. Ini memberikan keuntungan bagi investor karena pemulihan ekonomi mendukung berbagai kelas aset. Bahkan terdapat narasi yang lebih bullish yaitu skenario “tanpa pendaratan” dimana kemungkinan ini dapat terjadi jika pemulihan ekonomi meningkat terlalu cepat, memicu kembali inflasi dan memaksa bank sentral di negara-negara ikut menaikkan suku bunga.

Namun, setelah pengumuman kebijakan tarif pada Liberation Day dari pemerintahaan Trump di awal April 2025 kemarin, sebagian pelaku pasar melihat adanya risiko “hard landing” atau resesi, terutama karena perang dagang. Tentunya perang dagang yang berkelanjutan berpotensi memicu kenaikan inflasi dan mendorong pelemahan ekonomi, sehingga menyebabkan terjadinya stagflation. Sebaliknya, jika terdapat kesepakatan negosiasi tarif, terutama antara AS dengan trading partners utama seperti China dan Eropa dalam waktu dekat, maka akan memberikan dampak positif terhadap ekonomi. Di sisi lain, ekonomi Eropa dinilai masih akan cukup baik di tengah peluang pemangkasan suku bunga ECB yang besar dibanding Fed dan ekspansi fiskal terutama dari negara seperti Jerman yang baru saja melakukan reformasi “debt brake”. Sedangkan ekonomi China, meskipun masih berada dalam tekanan akibat sektor properti yang melemah dan perang dagang, para ekonom memprediksi pemerintah dapat mengumumkan paket stimulus besar pada paruh tahun kedua ini.

Dengan kembali terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, ketidakpastian kebijakan ekonomi meningkat. Pasar perlu mencermati dampak kebijakan terkait pajak, tarif, deregulasi, kebijakan luar negeri, dan pendekatan terhadap Federal Reserve. Ketidakpastian ini dapat menyebabkan perusahaan menunda investasi atau perekrutan hingga situasi makro ekonomi lebih jelas.

Peluang Investasi di Era Trumponomics 2.0

Pasar saham AS kemungkinan akan mendapat dorongan dari kemenangan Partai Republik, mengikuti pola pemerintahan Trump sebelumnya. Namun, risiko overheating ekonomi atau reaksi negatif pasar obligasi terhadap pemotongan pajak besar harus diwaspadai. Selain faktor politik, pemangkasan suku bunga oleh bank sentral di negara maju akan memberikan dukungan bagi saham dan obligasi.

fed funds rate and us recessions

Investor harus berhati-hati selama siklus pemotongan suku bunga, karena dalam lima siklus terakhir di AS, empat di antaranya bertepatan dengan resesi. Konsensus berpendapat AS akan mengalami “soft landing,” sementara Eropa diperkirakan akan tumbuh secara moderat. Kami melihat saham teknologi AS tetap menjadi pilihan utama, dengan pertumbuhan laba yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI), meskipun terdapat persaingan yang semakin ketat terutama di sisi cost-efficiency.

Pasar saham Eropa dapat mengalami kenaikan setelah tertinggal dari pasar utama lainnya. Tantangan geopolitik telah berlalu dan reformasi fiskal di Jerman dan peluang pemangkasan suku bunga ECB lanjutan menjadi katalis utama, meskipun tantangan tarif perdagangan tetap menjadi perhatian. Sementara itu. prospek pasar China akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintahnya dan perkembangan hubungan perdagangan dengan AS, dengan stimulus yang terus berlanjut tetapi tanpa perubahan besar dalam strategi ekonomi.

consensus year on year earnings

Pendapatan Tetap dan Risiko Inflasi

Pasar obligasi menghadapi risiko dari kebijakan pemerintahan Trump yang berpotensi memicu inflasi melalui pengetatan imigrasi, tarif, dan pemotongan pajak. Imbal hasil Treasury jangka panjang dapat meningkat akibat ketidakpastian prospek inflasi dan defisit anggaran AS yang membengkak. Ditambah lagi, perpanjangan pemotongan pajak dapat memperburuk prospek fiskal

Obligasi dengan peringkat investasi diperkirakan memberikan imbal hasil lebih baik dibandingkan obligasi pemerintah, dengan spread yang tetap terkendali seiring pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Isu Keberlanjutan dan Investasi

Hasil pemilu AS mempengaruhi kemajuan kebijakan iklim global, tetapi kebutuhan akan energi bersih tetap tinggi. Permintaan energi global diprediksi meningkat 100% hingga 2050, didorong oleh elektrifikasi, pertumbuhan populasi, dan penggunaan AI yang semakin luas. Turunnya biaya panel surya, turbin angin, hidrogen, dan baterai mempercepat adopsi renewable energy.

Pada tahun 2025 dan seterusnya, fokus tidak hanya pada “net zero,” tetapi juga “real zero,” yaitu pengurangan emisi secara langsung tanpa bergantung pada offset karbon. Analisis oleh Carbon Brief menunjukkan bahwa dua pertiga dari perusahaan terbesar di dunia yang memiliki targetnet-zero menggunakan skema offset untuk membantu memenuhi komitmen iklim mereka.[1] Menurut laporan Net Zero Stocktake 2024, meskipun semakin banyak negara, wilayah, kota, dan perusahaan yang menetapkan target net-zero, hanya 5% atau kurang yang memenuhi kriteria prosedural dan integritas dari Net Zero Tracker.[2]

Perusahaan dalam ekonomi sirkular yang mengurangi kebutuhan produksi atau ekstraksi sumber daya baru menjadi target investasi yang menarik. Model bisnis seperti pengelolaan limbah, perpanjangan siklus hidup produk, dan platform berbagi sumber daya menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Di sisi lain, bencana alam, termasuk banjir di Eropa, Asia, dan AS, menunjukkan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Dampaknya terasa di berbagai sektor, dari rantai pasokan hingga kualitas air. Investasi dalam solusi adaptasi, seperti pengolahan air dan infrastruktur tahan bencana, menjadi semakin penting.
Kelangkaan air menjadi tantangan besar, terutama di Afrika Sub-Sahara dan negara maju yang mengalami peningkatan suhu. Perusahaan yang bergerak di bidang smart irigation, pemantauan kualitas air, dan deteksi kebocoran memiliki peluang pertumbuhan yang signifikan. Peluang ini mencakup sektor defensif maupun siklis dan tersebar di berbagai wilayah.

Life After Cash

Penurunan suku bunga setelah periode inflasi tinggi pasca pandemi mengalihkan perhatian dari investasi kas jangka pendek ke aset lain. Reksa dana pasar uang sebelumnya menawarkan hasil yang menarik, tetapi kini investor mencari alternatif dengan imbal hasil lebih baik.

Obligasi korporasi sering menjadi pilihan, tetapi saat ini terlihat mahal karena berada di tahap akhir siklus ekonomi. Investor harus memperhatikan gelombang refinancing korporasi dalam 12-18 bulan mendatang, yang dapat memengaruhi imbal hasil obligasi. Kami meliat obligasi pasar negara berkembang juga menjadi pilihan menarik karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi negara maju.

the winding down of quantitative easing is positive for active fixed income strategies

Pasar obligasi sempat mengalami volatilitas tinggi pada 2022, setelah periode volatilitas rendah. Kini, pasar kembali ke kondisi yang lebih dinamis, menciptakan peluang bagi investor di kelas aset pendapata tetap. 

Tema Investasi 2025

Thematic Offshore
Kami mempertahankan sikap yang sedikit positif terhadap saham global. Kami lebih menyukai saham teknologi AS yang meskipun memiliki valuasi tinggi, memiliki tingkat profitabilitas tinggi dan prospek pertumbuhan laba yang menarik. Investasi yang berfokus tema tertentu (tematik) menjadi pilihan yang menarik di tahun ini. Investor dapat mengambil benefit pada tema-tema yang mendapat manfaat di tengah ketidakpastian. Contoh : investasi tema sektor teknologi, investasi tema pasar saham China dan Eropa

Fixed Income
Di tengah perkembangan politik dan volatilitas global, obligasi negara berkembang, termasuk obligasi pemerintah Indonesia menjadi pilihan yang menarik bagi investor. Untuk memanfaatkan momentum, investor juga dapat melakukan diversifikasi melalui instrumen pendapatan tetap dengan mata uang asing seperti USD
 
Sustainability
Keberlanjutan masih terus menjadi arah investasi perusahaan-perusahaan di dunia. Kami percaya, menambahkan pertimbangan aspek keberlanjutan dalam pemilihan investai, terutama di tengah volatilitas pasar yang tinggi, akan membantu investor mengambil keputusan dengan lebih baik. Integrasi ESG (Environmental, Social, dan Governance) dapat dilihat sebagai bentuk mitigasi risiko investasi untuk membantu investor terhindar dari perusahaan-perusahaan dengan potensi kontroversi yang mampu mempengaruhi kinerja perusahaanya.


[1] https://interactive.carbonbrief.org/carbon-offsets-2023/companies.html
[2] https://zerotracker.net/analysis/net-zero-stocktake-2024
 

Informasi penting

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI,  CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN / MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG. OTORITAS JASA KEUANGAN TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI PROSPEKTUS REKSA DANA INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM. Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual/ Perbankan. Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Ringkasan informasi produk ini tidak menggantikan Prospektus Reksa Dana dan disiapkan oleh PT. BNP Paribas AM hanya untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Seluruh informasi yang terkandung dalam dokumen ini disajikan dengan benar. Apabila perlu, investor disarankan untuk meminta pendapat profesional sebelum mengambil keputusan berinvestasi. Kinerja masa lalu tidak serta-merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang dan juga bukan merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi tentang kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang. Pendapat yang termuat dalam dokumen ini merup\akan pendapat dari Manajer Investasi untuk waktu tertentu dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. PT. BNP Paribas AM tidak berkewajiban untuk memperbarui atau mengubah informasi atau pendapat yang disebutkan dalam dokumen ini. Dengan memperhitungkan risiko ekonomi, risiko pasar dan faktor risiko lainnya, tidak ada jaminan bahwa Reksa Dana ini akan mencapai tujuan investasinya. Investor mungkin tidak mendapatkan kembali nilai nominal atas investasi awal. Mohon mengacu pada Prospektus dan dokumen penawaran untuk informasi lebih lanjut (termasuk faktor-faktor risiko) mengenai Reksa Dana yang juga dapat diakses melalui situs PT. BNP Paribas AM di staging.bnpparibas-am.co.uk/id-id. Investasi pada Reksa Dana bukan merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada Bank dan tidak termasuk dalam cakupan objek program penjaminan simpanan oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Surat atau bukti konfirmasi pembelian, penjualan Kembali dan pengalihan Reksa Dana merupakan bukti hukum yang sah atas kepemilikan Reksa Dana yang diterbitkan oleh Bank Kustodian dimana Pemegang Unit Penyertaan dapat melihat ke pemilikan ReksaDana melalui Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSES) di https://akses.ksei.co.id/. BNP PARIBAS ASSET MANAGEMENT SEBAGAI MANAJER INVESTASI BERIZIN DAN DIAWASI OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK).

Back to Top