Waktu Tepat Terjun ke Investasi Global via Reksa Dana Offshore

Tahun 2026 menjadi momen yang relevan bagi investor Indonesia untuk lebih serius mempertimbangkan diversifikasi investasi ke pasar global. Peta investasi yang kian terfragmentasi dan tidak lagi didominasi satu negara atau satu tema tertentu membuka peluang baru melalui instrumen reksa dana syariah berbasis efek luar negeri.

Amica Darmawan, Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management, mengungkapkan bahwa 2026 merupakan tahun yang tepat untuk diversifikasi ke pasar global, berkaca dari situasi perekonomian global sepanjang 2025 yang dinilai cukup dinamis.

“Sebenarnya terlepas dari perang tarif pada awal 2025, pertumbuhan ekonomi global masih relatif tangguh. Memang ketidakpastian global masih ada, tapi secara kebijakan cenderung terukur,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Amica memaparkan, pada paruh kedua 2025 berbagai negara melakukan dorongan fiskal yang semakin luas. Amerika Serikat menjalankan kebijakan fiskal ekspansif, Eropa meningkatkan belanja strategis jangka menengah, sementara Jepang meluncurkan stimulus fiskal yang berkelanjutan hingga 2026.

Di sisi moneter, banyak bank sentral telah melakukan pemotongan suku bunga sejak akhir 2024. Efek transmisi dari pelonggaran tersebut, yang membutuhkan waktu sekitar 6–18 bulan, dinilai masih akan menjadi penopang pertumbuhan makroekonomi dan pasar keuangan ke depan.

Perkembangan terbaru di mana Mahkamah Agung Amerika Serikat menganulir pengenaan tarif perdagangan global juga dinilai sebagai angin segar bagi perdagangan global yang lebih kondusif dan berdampak positif terhadap peningkatan konsumsi.

Menurut Amica, konstelasi investasi di pasar global saat ini semakin menarik karena arah kinerja pasar lebih terdiversifikasi. Sebelumnya, minat pasar terkonsentrasi sangat tinggi di AS dengan tematik sektor teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang memberikan lonjakan profitabilitas tinggi sejak 2024. Meski demikian, sektor AI secara fundamental masih dinilai menarik karena valuasi perusahaan pemimpin AI masih dalam batas wajar dan adopsi korporasi secara luas terus meningkat.

“Namun, sejak 2025, konsentrasi pasar sudah mulai menyebar ke kawasan lain seperti Eropa, Jepang, maupun Asia. China, misalnya, memasuki 2026 dengan pijakan lebih kokoh setelahrebound signifikan di 2025, didorong oleh kebijakan moneter-fiskal dan tema inovasi teknologi. Diversifikasi lintas kawasan dan lintas tema akan tetap menjadi tema investasi utama pada 2026,” jelasnya.

MAKIN TEREDUKASI

Amica juga mencatat pergeseran karakter investor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kalangan investor ritel kini sudah lebih teredukasi, dan minat terhadap aset global dengan strategi tematik terus meningkat. Risiko bukan lagi sesuatu yang harus dihindari, melainkan harus dikelola secara disiplin untuk mencapai tujuan investasi jangka panjang.

Bagi investor dengan karakter yang lebih konservatif, pendekatan global tetap bisa dilakukan secara terukur. BNP Paribas Asset Management, misalnya, menyediakan solusi mulai dari pendapatan tetap denominasi dolar AS dengan pilihan investasi yang terkurasi.

Untuk kelas aset saham, BNP Paribas Asset Management menawarkan beragam produk dengan tema global. Di antaranya reksa dana aktif dengan eksposur terdiversifikasi pada saham negara maju, reksa dana dengan fokus kawasan Greater China, hingga reksa dana indeks yang mereplikasi 50 perusahaan teknologi global terkemuka yang semuanya menerapkan prinsip syariah.

BNP Paribas DJIM Global Technology Titans 50 Syariah USD

Reksa dana indeks saham syariah yang berinvestasi di luar negeri (offshore) dengan pengelolaan pasif penempatan dana, antara  80%-100% pada efek syariah bersifat ekuitas global. Reksa dana ini dirancang untuk mereplikasi kinerja indeks Dow Jones Islamic Market (DJIM) Global Technology Titans 50, yang mencakup 50 perusahaan teknologi terbesar di dunia, termasuk perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI) dan otomasi, dengan tetap mengikuti prinsip-prinsip syariah.

Pelajari lebih lanjut.

BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD

Merupakan reksa dana saham syariah yang menggunakan mata uang dolar AS (USD) dan memberikan potensi jangka panjang dengan fokus investasi pada berbagai perusahaan di kawasan China, Hong Kong, dan Taiwan. Produk yang dirilis pada 15 Januari 2020 ini mengintegrasikan prinsip-prinsip syariah dengan pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG). Reksa dana dengan alokasi aset 80%-100% ekuitas ini per Februari 2026, mencatat performa yang baik dengan tingkat imbal hasil selama satu tahun sebesar 25,94%.

Pelajari lebih lanjut.

BNP Paribas Cakra Syariah USD

Reksa dana saham syariah yang menggunakan mata uang dolar AS dan berorientasi pada investasi luar negeri (offshore). Produk ini menjanjikan potensi pertumbuhan investasi dalam jangka panjang.

Pelajari lebih lanjut.

BNP Paribas AM juga secara rutin melakukan edukasi investor, tidak hanya dari pakar lokal tetapi juga dilengkapi pakar global dari grup BNP Paribas. “Kunci utama bukan mengejar imbal hasil jangka pendek, melainkan diversifikasi yang konsisten dan disiplin. Kami mengimbau investor untuk selalu menyesuaikan pilihan produk dengan tujuan dan profil risiko masing-masing,” paparnya.

*Artikel ini diterbitkan oleh Bisnis Indonesia Waktu Tepat Terjun ke Investasi Global via Reksa Dana Offshore.