Kesadaran akan pentingnya isu Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) dalam investasi yang berjalan beriringan dengan tujuan finansial, tengah menjadi tren di seluruh dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, aliran dana yang masuk ke dalam produk-produk investasi berbasis ESG terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Jumlahnya bahkan diproyeksi akan naik beberapa kali lipat dalam jangka waktu yang cukup singkat.
Laporan ESG Report dari Mandiri Institute pada 2022 [1] menyebutkan bahwa jumlah investor serta dana yang dikelola atau asset under management (AUM) dari investasi berbasis ESG, telah naik secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Lebih lanjut, data dari Principles for Responsible Investment (PRI) menyebutkan total perusahaan yang berpartisipasi dalam penandatangan komitmen PRI beserta total dana kelolaan (AUM) turut meningkat secara signifikan, terutama di tahun 2020-2021.

Kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan total dana kelolaan (AUM) untuk reksa dana berbasis ESG di Indonesia per Agustus 2024 mencapai 10,16 triliun dengan 42 produk yang diterbitkan oleh 23 Manajer Investasi (MI) [2]. Jumlah tersebut naik hampir empat kali lipat dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya dengan total dana kelolaan (AUM) reksa dana berbasis ESG di Indonesia pada tahun 2021 hanya mencapai Rp 2,3 triliun dengan produk yang masih relatif terbatas [3].

Peningkatan dana kelolaan berbasis ESG dalam beberapa tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Di dunia yang penuh dengan dinamika geopolitik, perkembangan industri, serta regulasi yang terus-menerus berevolusi, serangkaian aktivitas yang kita lakukan ikut memberikan dampak terhadap perubahan iklim, pertumbuhan ketidaksetaraan sosial, dan pada akhirnya berimbas terhadap performa portofolio investasi kita.
Hadirnya investasi berbasis ESG ini berupaya untuk mengurangi dan mengelola kontribusi negatif dari aktivitas-aktivitas tersebut, di saat yang bersamaan mencapai hasil finansial yang lebih baik secara jangka panjang, bahkan jika dibandingkan produk investasi konvensional.
Di Indonesia, performa dari indeks SRI-KEHATI mengungguli indeks konvensional lainnya, bahkan di atas indeks LQ45, yang berisikan 45 saham berkapitalisasi besar (yang paling likuid di Indonesia). Laporan dari IDX [4] menunjukkan bahwa pada tahun 2023, indeks dengan tema ESG tumbuh lebih tinggi dari Indeks LQ45 dan Indeks IDX30. Indeks SRI-KEHATI tumbuh 82% diikuti oleh IDX ESG Leaders yang tumbuh 56% sejak 4 Februari 2014.

Bagaimana Kriteria Investasi ESG Berpengaruh Terhadap Performa Portofolio?
Pengaruh terhadap kinerja portofolio investasi yang telah menerapkan kriteria berbasis ESG dalam proses pemilihan saham masih menjadi pembicaraan hingga saat ini. Tetapi sebelumya, perlu dicatat juga bahwa kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dapat diaplikasikan ke beberapa metode oleh manajer investasi untuk mencapai hasil yang berbeda yang berbeda. Dengan demikian, hasil tersebut juga bervariasi tergantung pada metode penilaian ESG yang digunakan untuk portofolio investasinya.
Setidaknya terdapat tiga metode yang umum digunakan, walau praktiknya berbagai metode bisa dikombinasikan dalam satu portofolio [5] , termasuk di dalamnya menyertakan dan tidak menyertakan saham tertentu di dalam portofolio tersebut.
- Responsible business conduct/RBC-based exclusions (eksklusi berdasarkan Standar Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab)
Eliminasi perusahaan/emiten berdasarkan kriteria RBC yang berlaku di dalam manajer investasi. Hal ini membantu investor untuk menghindari perusahaan yang memiliki eksposur terhadap risiko reputasinya atau pelanggaran regulasi, atau memiliki potensi pengurangan nilai asetnya secara tiba-tiba (stranded asset risk). Contohnya perusahaan batu-bara, minyak dan gas, atau bisnis tembakau.
- ESG Ranking/ Scoring
Meranking perusahaan berdasarkan seleksi faktor-faktor ESG yang diterapkan oleh manajer investasi. Hal ini membantu investor untuk memilih perusahaan yang memiliki skor bagus pada praktik keberlanjutannya dan menyisihkan perusahaan yang memiliki skor rendah.
- Menyeleksi perusahaan yang masuk dalam kriteria investasi berkelanjutan.
Praktik investasi keberlanjutan di negara maju umumnya memang sudah lebih terstruktur. Sebagai contoh, di BNP Paribas AM Eropa, terdapat proses pemilihan saham yang memenuhi definisi sustainable investment (SI) sesuai dengan kebijakan Sustainable Finance Disclosure Regulation (SFDR) yang berlaku di Eropa. Hal ini membantu investor untuk memiliki eksposur hanya pada perusahaan-perusahaan yang memberikan kontribusi terhadap tujuan lingkungan maupun sosial, yang tidak memberi dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan-sosial, dan memiliki praktik tata kelola yang baik.
Tiga pendekatan tersebut memberikan hasil yang berbeda-beda. Sebagai contoh, untuk portfolio yang berada di dalam cakupan implementasi RBC, artinya portofolio tersebut tidak dapat berinvestasi di perusahaan yang tidak selaras dengan standar RBC dan kebijakan manajer investasi terkait sektor-sektor yang dapat diinvestasikan. Portofolio telah disaring menggunakan Standar RBC dan lebih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu dibandingkan dengan portofolio lainnya maupun tolok ukurnya. Portofolio ini mungkin lebih bersiklus, khususnya pada waktu dimana sektor-sektor yang tidak selaras sedang berkinerja dengan baik.
Contoh lainnya, merujuk hasil studi pada portofolio reksa dana BNP Paribas AM Global sejak 2020 [6], penerapan ESG scoring menghasilkan performa positif jika dibandingkan dengan tolak ukur baik dari developed market maupun emerging market, terlepas dari performa negatif pada 2022 yang disebabkan dari penyisihan sektor minyak dan gas yang cukup kuat pada saat itu.


Beda pendekatan investasi ESG, bisa berbeda pula tujuannya.
Ketika menilai masing-masing pendekatan investasi berkelanjutan, investor harus menyadari bahwa pendekatan ini tidak semuanya memiliki tujuan yang sama. Beberapa pendekatan lebih menitikberatkan terhadap aspek risiko, jadi pendekatan yang digunakan adalah mitigasi risiko. Ada juga pendekatan lainnya yaitu lebih menitikberatkan pada aspek reward, jadi pendekatan yang digunakan mengarah ke peningkatan imbal hasil.
Dengan mengambil perspektif dari risk-reward ini, investor dapat melihat kebijakan RBC yang diterapkan oleh BNP Paribas AM sebagai filter pertama dan terutama, yaitu dengan memitigasi risiko – tujuannya adalah untuk mengeliminasi perusahaan-perusahan yang berpotensi menimbulkan risiko reputasional atau risiko pelanggaran regulasi.
Sedangkan penggunaan ESG Scoring dapat membantu investor untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik dan dengan demikian memberikan potensi risk adjusted return. Pendekatan ini secara historis telah memberikan kontribusi positif dilihat dari waktu ke waktu, tetapi – seperti grafik yang ditunjukkan di atas, proses investasi tidak terlepas dari faktor volatilitas pasar terutama pada periode yang sulit. ESG Scoring merupakan bagian dari kebijakan perusahaan kami untuk memasukkan pertimbangan ESG dalam proses investasi kami. Hal ini sejalan dengan komitmen kami sebagai The Sustainable Investor for A Changing World.
Disclaimer
Risiko investasi dalam kaitannya dengan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG): Masih terbatasnya standarisasi dan keselarasan definisi dan label seputar kriteria ESG dan tema keberlanjutan di berbagai negara dapat menghasilkan pendekatan yang berbeda oleh Manajer Investasi ketika menetapkan tujuan ESG. Hal Ini dapat menimbulkan kendala dalam penyandingan berbagai strategi investasi yang menerapkan kriteria ESG dan tema keberlanjutan. Lebih jauh lagi, pemilihan dan pembobotan yang diterapkan dalam pemilihan investasi bisa saja didasarkan pada sebuah metrik dengan nama yang sama, tetapi pada kenyataannya memiliki makna dasar yang berbeda. Dalam mengevaluasi sebuah instrumen berdasarkan kriteria ESG dan tema keberlanjutan, Manajer Investasi juga dapat menggunakan sumber data yang disediakan oleh penyedia riset ESG eksternal. Mengingat kriteria ESG yang terus berkembang, sumber data tersebut untuk saat ini mungkin tidak lengkap, tidak akurat, atau tidak tersedia. Menerapkan standar perilaku bisnis yang bertanggung jawab dalam proses investasi dapat mengakibatkan pengecualian terhadap emiten tertentu. Akibatnya, kinerja suatu kelas aset reksa dana / portofolio dapat menjadi berbeda daripada kinerja reksa dana / portofolio sebanding terkait lainnya yang tidak menerapkan standar tersebut.
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN / MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG. OTORITAS JASA KEUANGAN TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI PROSPEKTUS REKSA DANA INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual/ Perbankan. Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Ringkasan informasi produk ini tidak menggantikan Prospektus Reksa Dana dan disiapkan oleh PT. BNP Paribas AM hanya untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Seluruh informasi yang terkandung dalam dokumen ini disajikan dengan benar. Apabila perlu, investor disarankan untuk meminta pendapat profesional sebelum mengambil keputusan berinvestasi. Kinerja masa lalu tidak serta-merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang dan juga bukan merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi tentang kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang. Pendapat yang termuat dalam dokumen ini merupakan pendapat dari Manajer Investasi untuk waktu tertentu dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. PT. BNP Paribas AM tidak berkewajiban untuk memperbarui atau mengubah informasi atau pendapat yang disebutkan dalam dokumen ini. Dengan memperhitungkan risiko ekonomi, risiko pasar dan faktor risiko lainnya, tidak ada jaminan bahwa Reksa Dana ini akan mencapai tujuan investasinya. Investor mungkin tidak mendapatkan kembali nilai nominal atas investasi awal. Mohon mengacu pada Prospektus dan dokumen penawaran untuk informasi lebih lanjut (termasuk faktor-faktor risiko) mengenai Reksa Dana yang juga dapat diakses melalui situs PT. BNP Paribas AM di www.bnpparibas-am.co.id.
[1] Sumber : (https://www.bankmandiri.co.id/documents/20143/45659490/ESG+Book+Report+-+Mandiri+Institute.pdf/ca9a1803-b7aa-86be-5dec-c7f64a329245?t=1667449544435#:~:text=2%20mandiri%20institute%20-%20ESG%20Report%202022%20Environmental)
[2] Sumber : OJK Aug 2024 “Sustainable Finance in Capital Market”
[3] Sumber : IDX Aug 2024 “Promoting Sustainable Investment in Indonesia Capital Market”
[4] Sumber : IDX Aug 2024 “Promoting Sustainable Investment in Indonesia Capital Market”
[5] Sumber : What impact do sustainability criteria have on portfolio performance? (bnpparibas-am.com)
[6] Sumber : What impact do sustainability criteria have on portfolio performance? (bnpparibas-am.com)